Kamis, 04 Juli 2013

Makna dibalik PIALA ADIPURA

Makna dibalik PIALA ADIPURA



Sampah masih menjadi masalah di hampir semua kota di Indonesia. Mulai dari kota kecil sampai kota metrolitan sekalipun. Berbagai alternatif penyelesaian sampah telah diusahakan oleh berbagai pihak, tetapi tampaknya belum memberikan hasil yang memuaskan. Oleh karena keprihatinan inilah, maka kami telah mencoba menerapkan suatu teknologi terapan yang diaplikasi dari berbagai teknologi canggih berbagai negara agar mendapatkan suatu teknik pengolahan sampah yang benar-benar sempurna dan bermanfaat guna. Teknologi ini kami namakan Pengolahan Sampah Berwawasan Lingkungan ( PSBL ).

Dalam rangka memberikan semangat dan motivasi terhadappemerintah kabupaten/kota untuk mngatasi masalah sampah, maka Kementerian Negara Lingkungan Hidup menyelenggarakan Piala Adipura. Dengan fokus untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi " Kota bersih dan Teduh". Piala Adipura diberikan pada kota / kabupaten yang memiliki karakteristik sebagai daerah perkotaan dengan batas-batas wilayah tertentu yang berhasil menggalakkan program kebersihan diwilayahnya terutama kebersihan terhadap sampah. Keberhasilan ini adalah hasil kerjasama antara Pemerintah Kota dengan Masyarakatnya. Indikator penilaian dalam Piala Adipura adalah kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan serta pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen dan daya tanggap.

Namun bangsa Indonesia seperti tidak dapat terlepas dari pengaruh KKN dalam penyelenggaraan program kenegaraannya. Seperti yang dilaporkan Walhi ( Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ) mengenai Pemberian Piala Adipura 2012, dimana sampai saat ini perlaksanaan program piala adipura dinilai bersifat seremoni dan menghamburka uang. Seperti yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Nasional Walhi Abetnego Tarigan, Adanya permainan dalam pemberian penghargaan, sudah bukan rahasia umum. Misalnya, saat tim penilai turun ke lapangan, pasti akan ada entertain sehingga seolah-olah semua bisa diatur. Apalagi dengan sistem sectoring, kemungkinan bisa diatur juga besar.

Selain dampak negative diatas, hal lain yang harusnya menjadi perhatian yaitu mengenai kriteria yang belum jelas dan tidak memiliki reward and punishment serta empowerment, baik bagi yang berpredikat terbersih maupun terkotor. Hal ini sama saja dengan penghargaan swasta yang tidak ada efeknya, sehingga sering dimanfaatkan sebagai komoditas politik.

Sebagai contoh, Penghargaan Adipura tahun 2010 yang diberikan kepada Kota Bekasi, saat itu dipimpin Mochtar Mohammad (MM), kota patriot itu meraih Piala Adipura sebagai kota terbersih. Tapi, dua tahun kemudian, tahun 2012, Kota Bekasi mendapat "penghargaan" sebagai kota metropolitan terkotor se-Indonesia. "Penghargaan" kota terkotor itu diterima setelah Wali Kota Bekasi dijabat oleh Rahmat Effendi menggantikan MM. MM sendiri terjerat kasus korupsi, salah satunya dugaan suap Piala Adipura 2010 sebesar Rp 400 juta.

Jumat, 14 Juni 2013

Hutan Mangrove Tambaksari Wisata Baru yang Menyegarkan








 

DEMAK-Hutan mangrove yang tumbuh rimbun di wilayah Dukuh Tambaksari Desa Bedono Kecamatan Sayung, menjadi lahan wisata yang asri. Selain bisa mendatangi makam Aulia Syeh Mundakir, masyarakat dapat menikmati kesegaran udara di hutan tersebut.

Hutan Mangrove Tambaksari bisa menjadi pesona wisata religius dan rekreasi pantai. Para pengunjung akan dimanjakan dengan akses jalan yang sudah bagus ketika menuju makam Syeh Mundakir.
Selain menawarkan wisata alam nan asri, Kawasan Hutan Mangrove Demak juga sering dijadikan sebagai tempat religi yaitu berziarah di makam Aulia KH Abdullah Mudzakir.
Untuk menuju lokasi, pengunjung sekarang dipermudah dengan telah dibangunnya jalan darat di samping alternatif menggunakan perahu. Akses menuju lokasi itu kini telah dibangun jalan setapak sepanjang 1.359 meter dengan lebar 2 meter dan setinggi dua meter di atas air.
Seterusnya mulai terlihat beberapa puing-puing rumah yang tenggelam akibat ganasnya rob laut tujuh tahun silam. Sekitar tahun 2007 wilayah tersebut merupakan areal terparah tergenang rob, hingga Pemda merelokasi 77 kepala keluarga (KK)untuk pindah ke wilayah bebas rob.

Kendati seluruh areal Dukuh Tambaksari kebanjiran rob, muncul keanehan dari makam Syeh Mundakir yang sekarang menjadi lokasi wisata religius. Makam tersebut tak bisa tenggelam, sepintas akan tenggelam saat air pasang, ternyata makam masih meninggi lagi.

Karena keanehan tersebut, mendorong tujuh KK yang bertahan. Dengan alasan secara ikhlas akan merawat makam aulia itu, mereka tak mau pindah dan bersikukuh menempati lima rumah panggung yang dibangun sendiri.
Setelah bencana rob yang mengakibatkan ratusan warga Tambaksari direlokasi, Pemkab berupaya menata kembali lokasi itu. Seperti, melakukan penghijauan dan membangun tujuh alat pemecah ombak (APO).
Pemerintah daerah kini menjadikan Desa Bedono sebagai lokasi wisata hutan mangrove dan religius, dan lokasi Tambaksari sudah menjadi wilayah binaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak.
Nah temen-temen semua,harusnya sebagai masyarakat yang peduli akan kondisi lingkungan seudah seharusnya kita sama-sama menjaga dan melestarikan ala mini seperti menjaga kondisi hutan yang ada,menjauhkannya dari pembalakan liar karena yang akan merasakan hasilnya adlah kita sendiri,bayangkan jika di Negara ini tidak terdapat hutan lagi,,banyak hutan saja masih banjir,,apalagi tidak ada hutan,,gimana yachhh????? By hendri yusuf siregar

Sumber :



http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/30/122112/Demak-Jadi-Kawasan-Wisata-Mangrove-